Kumpulan Cerpen Pendidikan Terbaru

Kumpulan cerpen pendidikan khusus ditampilkan bagi teman-teman semuanya agar bisa mengambil maknanya dan juga bisa memetik inti sari serta nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya. Teman-teman bisa membuat cerpen seperti ini dan usahakan jangan meniru mentah-mentah agar kreatifitas teman-teman bisa teruji dengan baik. Selamat menyimak ya!

Ujung Usaha

Citra Pak Maulana di mata sebagian besar siswanya adalah sebagai guru yang sangat ditakuti. Sebab di sekolah tempat Pak Maulana mengajar hanya dia yang sering  memberi sanksi kepada siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Sebagai sosok seorang guru yang penuh tanggung jawab serta disiplin, Pak Maulana tidak sedikit pun merasa takut akan dibenci siswa-siawanya dari imbas apa yang telah dilakukannya kepada siswa.
    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL5i5mB-l4wedpVq97mp0gk5qoIw3SmSu6fA8Z3iS4D2jyUocEiVQZj0LjA9RABNdnAcGcH8-A-v4V3txTsaWLpBP0GOiBtp4JQ331I4PT-LCwUMBSRh9JkkZRIW1s8e7RbVFDMZV_Ir4/s400/Cerpen+Persahabatan+Januari+2013.jpg
Pak Maulana selalu teguh dalam melaksanakan tugas. Ia seorang guru yang tidak pernah membedakan pelayanannya kepada semua siswanya. Apalagi siswa yang menjadi anak didiknya itu dari kalangan yang kurang mampu. 
Selain itu Pak Maulana adalah sosok guru yang sangat perhatian, walaupun di mata siswanya ia adalah guru yang sangat ditakuti. Pak Maulana masih memegang prinsip selagi siswa masih ada yang mendukung apa yang telah dilakukannya di sekolah, ia tetap berusaha untuk menjadi seorang guru yang tetap menjalankan tata tertib yang berlaku di sekolah. Ditambah lagi, disuatu ketika siswa-siswi mengadakan class meeting yang salah satu acaranya adalah pemilihan guru favorit. Dengan tidak disangka-sangka oleh Pak Maulana ternyata yang menjadi pemenangnya. Melalui kegiatan itulah, Pak Maulana bertambah yakin bahwa apa yang telah dilakukannya selama ini terhadap siswanya mendapat dukungan penuh oleh anak didiknya.
    
Pak Maulana berpikir, mungkin hal itu terjadi karena selama ini selian ia sering menghukum siswanya, ia juga seorang guru yang ringan tangan, peduli dengan siswa, penuh tanggung jawab, terbuka, bahkan tidak jarang membantu siswa yang lagi kesulitan dalam keuangan.
    
Berpikir masalah pekerjaan guru sangat komplek. Boleh dikatakan mudah boleh juga dikatan sulit. Karena guru tugasnya bukan hanya sekedar mengajar di dalam kelas. Tetapi, pekerjaan yang paling sulit adalah mendidik. Mengubah tingkah laku siswa. Sebab mengubah tingkah laku siswa tidak semudah mengubah sebatang pohon menjadi sekeping papan, dari sekeping papan menjadi sebuah meja, atau menjadikannya suatu barang yang bernilai tinggi. Tetapi, mengubah prilaku siswa sangat sulit. Apalagi siswa datangnya dari golongan, tingkat, dan sifat yang berbeda.
    
Pernah suatu ketika Pak Maulana dihadapkan dengan masalah siswa yang sangat berat. Pak Maulana paham betul dengan keadaan Aditya. Aditya merupakan siswa yang pernah tinggal kelas. Wajar saja kalau Aditya tinggal kelas. Selain kemampuan Aditya sangat lemah, ia juga meruapakan siswa yang nakal, sering terlambat, bahkan suka bolos sekolah. Sekarang Aditya sudah duduk di kelas sembilan.
    
Sebenarnya semua guru memahami tentang keadaan Aditya. Guru juga maklum, selama ia duduk di kelas delapan, keluarganya pindah rumah. Dengan demikian jarak antara rumah ke sekolah semakin jauh. Mungkin itulah penybab ia sering terlambat ke sekolah. Apalagi ia ke sekolah menggunakan angkutan umum. Dengan keadaannya yang demikian, semua guru sebenarnya telah memaklumi jika ia sering terlambat sekolah.
    
Namun, Aditya tidak memahami apa yang sebenarnya telah guru berikan kepadanya. Sekarang guru-guru  sudah mulai kurang memperdulikannya. Banyak hal yang membuat guru bersikap demikian. Selain sekarang ia jarang masuk, suka bolos, merokok, bahkan ia sudah sering berbohong kepada orang tuanya dan guru. Dari sikapnya tersebut tidak jarang Aditya mendapatkan hukuman dari Pak Maulana.

******

    Semester pertama tahun ajaran baru, Pak Maulana sudah membayangkan bagaimana nasib Aditya nanti pada saat ujian tiba. Pak Maulana berusaha untuk mencari solusi agar Aditya berubah menjadi siswa yang rajin dan patuh terhadap guru. Hampir setiap hari Pak Maulana memanggil Aditya. Mengajak bicara. Berbagi rasa. Berbagi pengalaman. Bahkan mengajak Aditya untuk tinggal bersamanya.
    
Sebenarnya Aditya sudah sering ke rumah Pak Maulana. Bahkan Aditya  pernah bermalam di rumah Pak Maulana. Jadi, sebenarnya hubungan antara Pak Maulana dan Aditya siswanya itu sudah terjalin akrab bukan hanya sebatas seorang guru dengan siswa..
    
Dari lubuk hati yang paling dalam, Pak Maulana sangat sayang dengan Aditya. Walaupun setiap hari di sekolah ia selalu menjengkelkan hati Pak maulana. Aditya memang siswa yang nakal, malas, sering bolos, bahkan pembohong. Namun, di mata Pak Maulana, Aditya adalah sosok siswa yang masih memiliki prestasi. Terutama prestasi dalam bidang olahraga.
    
Di sekolah, Pak Maulana selain sibuk mengajar ia juga merupakan guru ekstrakurikuler, khususnya bola voli. Oleh sebab itu, tidak jarang siswa yang ikut ekstra voli bermalam di rumah Pak Maulana. Apalagi pada saat akan melakukan kunjungan persahabatan ke sekolah lain.
    
Aditya merupakan pemain andalan Pak Maulana. Ia juga pernah mewakili kecamatan untuk mengikuti POPDA tingkat kabupaten dalam pertandingan bola voli. Itulah mungkin salah satu alasan Pak Maulana ingin mengajak Aditya tinggal bersamanya.
    
Pernah suatu ketika Pak Maulana membicarakan tentang ajakannya kepada Aditya untuk tinggal bersamanya. Pada saat itu Aditya sedang bermalam di rumah Pak Maulana. Maksud Pak Maulana adalah agar nanti semester kedua Aditya akan mudah  belajar. Karena Pak Maulana tau persis bahwa di semester kedua kegiatan belajar di sekolah bahkan di luar sekolah sangat padat.
    
Kebiasan di sekolah tempat Pak Maulana bertugas, di semester kedua siswa yang duduk di kelas sembilan pasti akan mendapatkan jam tambahan di sore hari. Selain itu, di malam harinya akan diadakan belajar kelompok yang masing-masing kelompok dibimbing oleh salah satu guru dari sekolah tersebut. Itulah alasan yang kuat mengapa Pak Maulana sedikit memaksa agar Aditya mau tinggal bersamanya.
    
Mendengar ajakan tersebut Aditya semula sangat ingin tinggal bersama Pak Maulana. Aditya juga menyampaikan bahwa sebenarnya kedua orang tuanya pun menyarankan agar dia  bisa tinggal bersama salah satu gurunya. Mendengar apa yang dikatakan Aditya, Pak Maulana merasa sangat senang sekali. Ia berharap agar Aditya benar-benar mau ingin tinggal bersamanya.
    
Sebelumya, antara Pak Maulana dan orang tua Aditya sudah saling kenal. Karena pada saat Aditya duduk di kelas delapan ia pernah ke rumah Pak Maulana. Awalnya orang tua Aditya mengenal Pak Maulana dari apa yang sering diceritakan Aditya kepadanya. Selain itu, orang tua Aditya yang bekerja di salah satu BPD di kabupaten juga sering mendengar cerita dari salah satu teman guru Pak Maulana yang tinggal sekampung dengannya. Ditambah lagi, Pak Maulana dan orang tua Aditya pernah bermain voli bersama. Sehingga hubungan Pak Maulana dengan orang tua Aditya semakin akrab.

Orang tua Aditya pernah menyampaikan kepada Pak Maulana bahwa dia sangat mendukung sekali apa yang pernah dilakukan Pak Maulana saat ia selalu  memberikan hukuman kepada anakanya Aditya. Dan ia  pun langsung meyerahkan Aditya kepada Pak Maulana untuk mendidik Aditya seperti anak Pak Maulana sendiri. Inilah sebenarnya yang menjadi tanggung jawab Pak Maulana, sehingga Pak Maulana benar-benar berusaha untuk mengajak Aditya tinggal bersamanya.

***********

Suatu malam, orang tua Aditya bertamu ke rumah Pak Maulana. Ternyata Aditya sudah menceritakan kepada orang tuanya tentang apa yang dismpaikan Pak Maulana kepadanya. Pak Maulana senang sekali. Pembicaraannya dengan  orang tua Aditya tidak lain hanya membicarakan tentang niat Aditya yang akan diajak Pak Maulana tinggal bersamanya. Orang tua Aditya sangat senang ada salah satu guru yang bersedia untuk mengajak anaknya tinggal  bersama. Orang tua Aditya juga sangat berharap dengan tinggalnya Aditya di salah satu rumah guru akan menjadikan Aditya berubah dan lebih menjadi mandiri. Pembicaraan yang terjadi malam itu memastikan bahwa nanti semester dua Aditya akan tinggal bersama Pak Maulana.

Semester genap sudah berjalan kurang lebih satu bulan. Pak Maulana sudah menunggu-nunggu orang tua Aditya untuk menyerahkan anaknya kepada Pak Maulana. Sedangkan tingkah laku Aditya di sekolah sama sekali tidak berubah. Ia masih saja bertingkah laku seperti di semester ganjil. Terlambat, dan bolos sekolah masih saja  dilakukannya.

Sekarang dewan guru sudah bersikap masa bodoh dengan Aditya. Sebab beberapa guru sudah merasa bosan untuk menegur Aditya. Karena sampai sekarang Aditya tidak ada sama sekali menampakkan perubahan ke arah yang lebih baik. Tidak terkecuali, wali kelas Aditya juga demikian. Ditambah lagi ada beberapa masalah baru yang dilakukan Aditya.

Setiap guru yang masuk dan keluar dari kelas Aditya, tidak ada yang lain pembicaraannya melainkan tentang Aditya. Bahkan guru yang memberikan jam tambahan pada sore hari pun mengeluhkan Aditya sering tidak hadir.

Panggilan terhadap orang tua sudah sering dilakukan pihak sekolah. Baik melalui surat atau melalui via telepon seluler. Namun, orang tua Aditya jarang sekali menghadiri panggilan dari sekolah tersebut. Alasan yang sering disampaikan oleh orang tua Aditya adalah tidak mendapat izin dari atasan tempat ia bekerja. Mungkin juga malu, karena terlalu sering di panggil tentang masalah anaknya. Mendengar hal itulah, beberapa dewan guru sudah semakin tidak peduli dengan Aditya. Beberapa dewan guru beranggapan bahwa orang tuanya saja tidak peduli dengan anaknya, apalagi kita yang hanya sebatas sebagai seorang guru.

Melihat sikap beberapa dewan guru, Pak Maulana tidak menyalahkan temannya. Paling tidak dari pihak sekolah telah berusaha keras untuk mengubah sikap Aditya.

Sebelumnya Pak Maulana sudah mempersiapkan kedatangan Aditya ke rumahnya. Ia sudah membuat satu kamar untuk Aditya. Walaupun ukuran rumah Pak Maulana hanya 6 m x 12 m, ia rela mengorbankan ruang keluarga menjadi sebuah kamar untuk Aditya. Maklum saja, rumah sebesar itu harus dibuat menjadi tiga kamar memang cukup kecil. Belum lagi kamar untuk kedua anak Pak Maulana Putri dan Hakam. Rencana Pak Maulana Aditya akan satu kamar bersama anaknya Hakam, sedangkan Putri anak sulung Pak Maulana yang baru duduk di kelas dua Sekolah Dasar memiliki kamar sendiri.

Semester genap sudah memasuki bulan  kedua. Pak Maulana masih saja menunggu kehadiran orang tua Aditya. Pak Maulana masih sangat mengaharapkan agar Aditya secepatnya tinggal di rumahnya. Penantian Pak Maulana tak kunjung tiba. Walaupun sekarang sudah memasuki bulan ketiga semester genap. Di hati Pak Maulana penuh tanda tanya. Mengapa niat baiknya tidak tanggapi orang lain.

Kenyataan di sekolah, Aditya masih saja menjadi topik utama pembicaraan dewan guru. Dengan berbagai sudut pandang menjadi sorotan kepadanya. Pak Maulana yang sudah sedikit patah hati, sudah mulai mengkuti arus. Pak Maulana sepertinya tidak lagi banyak berbuat untuk Aditya. Bahkan sekarang ia banyak diam walaupun Aditya melakukan kesalahan. Pak Maulana sadar bahwa sebenarnya  hal itu tidak sepatantasnya ia lakukan. Sebagai manusia biasa Pak Maulana merasa sudah berusaha untuk berbuat yang terbaik.
Advertisement
advertisement
Kumpulan Cerpen Pendidikan Terbaru | Mawar Senja | 5